Perahu Nabi Nuh Alaihis Salam
Perahu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 17 Syawal 1447 H / 6 April 2026 M.
Kajian Tentang Perahu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam
السُّنَّةُ سَفِينَةِ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“Sunnah itu bagaikan perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya ia akan selamat, dan barang siapa yang tertinggal darinya ia akan tenggelam.” (Al-Khatib dalam Tarikh Bagdad)
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berdakwah selama 950 tahun, namun pengikutnya sangat sedikit. Beliau dicela, dituduh gila, dan dianggap tidak waras. Meski demikian, beliau tetap berdakwah dengan sabar, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, siang dan malam. Fokus utama dakwahnya adalah mengajak kaumnya untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan kesyirikan. Namun, kaumnya tetap menolak dakwah tersebut hingga tiba waktu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menurunkan azab.
Kebinasaan Kaum yang Mendustakan
Surah Al-Qamar ayat 9 sampai 16 menggambarkan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang telah mendustakan risalah-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ
“Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul). Mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia orang gila,’ lalu dia pun dibentak (dengan cacian).” (QS. Al-Qamar [54]: 9)
Meskipun dicaci maki, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tetap bersabar hingga akhirnya beliau memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa beliau diabadikan dalam ayat selanjutnya:
فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
“Maka dia (Nuh) berdoa kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka menangkanlah (aku).`” (QS. Al-Qamar [54]: 10)
Allah Subhanahu wa Ta’ala segera mengabulkan doa tersebut dengan membuka pintu-pintu langit dan menurunkan air yang sangat deras. Pada saat yang sama, bumi pun diperintahkan untuk menyemburkan mata air.
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ . وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
“Lalu Kami buka pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar [54]: 11-12)
Keselamatan di Atas Perahu
Di tengah banjir besar yang meluap dan menghancurkan para pendusta, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam beserta para pengikutnya di atas sebuah perahu.
وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ . تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَنْ كَانَ كُفِرَ
“Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (perahu) yang terbuat dari papan dan pasak. Yang berlayar dengan pengawasan Kami sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari (dakwahnya).” (QS. Al-Qamar [54]: 13-14)
Perahu tersebut menjadi simbol keselamatan bagi mereka yang beriman dan mengikuti petunjuk-Nya, sekaligus menjadi balasan atas kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menghadapi penolakan kaumnya selama berabad-abad. Kebinasaan bagi para penentang dakwah merupakan ketetapan yang pasti dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kisah hancurnya kaum Nabi Nuh sebagai tanda kebesaran dan pelajaran bagi umat manusia. Gambaran dahsyatnya azab tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:
وَلَقَد تَّرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ . فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ
“Dan sesungguhnya telah Kami jadikan itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-peringatan-Ku.” (QS. Al-Qamar [54]: 15-16)
Hancurnya kaum yang membangkang tersebut terjadi melalui air yang tercurah dari langit dan memancar dari bumi, bahkan air keluar dari tungku-tungku api. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan detail peristiwa ini dalam Surah Hud:
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan dia (Nuh) berkata, ‘Naiklah kamu semua ke dalamnya (perahu) dengan menyebut nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`” (QS. Hud [11]: 41)
Dalam ayat tersebut, kata majraha dibaca majreha menurut kaidah ilmu tajwid yang disebut imalah. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memerintahkan orang-orang beriman dan binatang yang berpasang-pasangan untuk naik ke perahu tersebut.
Dahsyatnya Ombak dan Dialog Sang Ayah
Kondisi banjir besar saat itu sangat mengerikan. Perahu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berlayar di atas air bah dengan ombak yang sangat besar dan dahsyat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan ukuran ombak tersebut setinggi gunung.
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ
“Dan perahu itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung.” (QS. Hud [11]: 42)
Di tengah situasi yang mencekam, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam melihat putranya yang kafir berada di tempat terpencil. Sebagai seorang ayah yang penuh kasih sayang, beliau terus berusaha mendakwahi dan memanggil putranya agar ikut naik ke perahu supaya selamat.
وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ
“Dan Nuh memanggil anaknya, ketika (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.`” (QS. Hud [11]: 42)
Dalam kaidah tajwid, kalimat irkab ma’ana dibaca irkam ma’ana karena termasuk idgham mutajanisain. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengingatkan putranya agar tidak bergabung dengan golongan orang kafir yang akan binasa.
Pembangkangan Sang Anak
Namun, seruan penuh kasih sayang dari ayahnya ditolak mentah-mentah. Putranya menunjukkan kedurhakaan dengan merasa mampu menyelamatkan diri sendiri melalui kekuatan fisiknya. Ia lebih memilih mengandalkan gunung sebagai tempat berlindung daripada mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ
“Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!`” (QS. Hud [11]: 43)
Putra Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tetap memilih naik ke atas gunung untuk menyelamatkan diri. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kemudian memperingatkan bahwa pada hari itu tidak ada lagi pelindung dari ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali bagi orang-orang yang dirahmati. Ketegasan peringatan ini diabadikan dalam Al-Qur’an:
قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
“Dia (Nuh) berkata, ‘Tidak ada yang melindungi dari ketetapan Allah pada hari ini selain orang yang dirahmati.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud [11]: 43)
Gelombang air yang besar menjadi penghalang bagi keduanya hingga akhirnya putra Nabi Nuh yang durhaka tersebut mati tenggelam. Ia termasuk golongan orang yang binasa karena menolak naik ke atas perahu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.
Surutnya Air Bah dan Berlabuhnya Perahu
Setelah kaum yang kafir binasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan alam semesta untuk kembali tenang. Bumi diperintahkan untuk menelan airnya dan langit diperintahkan untuk berhenti menurunkan hujan.
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah.’ Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan perahu itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim.`” (QS. Hud [11]: 44)
Setelah air surut dan perkara besar tersebut diputuskan, perahu yang terbuat dari papan dan pasak itu berlabuh di atas Gunung Judi. Kalimat bu’dan lil qaumizh zhalimin merupakan ungkapan kebinasaan dan kecelakaan bagi kaum yang zalim. Kezaliman terbesar yang mereka lakukan adalah berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyembah berhala-berhala seperti Wadd, Suwa, Yaghuts, dan Ya’uq. Sebagaimana nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)
Ibrah dari Kehancuran Umat-Umat Terdahulu
Penulis rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa begitulah cara Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas umat-umat kafir dan menjauhkan mereka dari rahmat serta ampunan-Nya. Pelajaran ini tidak hanya terbatas pada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menghancurkan kaum-kaum lain yang membangkang, di antaranya:
- Kaum ‘Ad (Kaum Nabi Hud): Allah membinasakan mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 58-60.
- Kaum Tsamud (Kaum Nabi Saleh): Kebinasaan mereka disebutkan dalam Surah Hud ayat 66-68.
- Kaum Madyan (Kaum Nabi Syuaib): Kisah penghancuran mereka tertera dalam Surah Hud ayat 94-95.
Kebatilan Sesembahan Selain Allah dan Kepastian Azab
Demikianlah cara Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazab orang-orang zalim dan kafir yang menyembah tuhan-tuhan palsu (al-alihah al-maz’umah). Sesungguhnya yang hak, layak, dan wajib disembah hanyalah Allah semata. Segala sesuatu yang disembah selain Allah hanyalah klaim palsu dan kebohongan yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun.
Ketika azab Allah Subhanahu wa Ta’ala datang, tidak ada satu pun sesembahan tersebut yang mampu mengangkat atau menghalangi siksaan bagi para penyembahnya. Kepada kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam yang dahulu saling berpesan untuk tidak meninggalkan berhala-berhala mereka, kebenaran ini menjadi nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai ajakan kesesatan mereka:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.`” (QS. Nuh [71]: 23)
Namun, saat kehancuran tiba, Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, maupun Nasr tidak dapat memberikan pertolongan. Hal ini membuktikan bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak diibadahi. Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada siapa pun yang mempersekutukan-Nya. Pelajaran besar bagi setiap hamba adalah kewajiban untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi syirik, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa [4]: 48)
Ibrah dari Puing-Puing Negeri yang Binasa
Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan kisah umat-umat terdahulu yang menyembah selain-Nya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan hikmah di balik kisah-kisah tersebut dalam Al-Qur’an:
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْقُرَىٰ نَقُصُّهُ عَلَيْكَ ۖ مِنْهَا قَائِمٌ وَحَصِيدٌ
“Itulah sebagian negeri-negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih teguh berdiri dan ada (pula) yang telah musnah.” (QS. Hud [11]: 100)
Meskipun sisa-sisa peninggalan tersebut masih ada di beberapa tempat, umat Islam tidak dianjurkan untuk menjadikannya tempat tamasya atau rekreasi. Tempat-tempat yang pernah menjadi saksi turunnya azab Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan tempat yang mengerikan dan seharusnya menjadi pengingat untuk mawas diri, bukan sebagai tempat hiburan.
Peninggalan dan bekas-bekas negeri kaum terdahulu ada yang masih teguh berdiri (qa’im) dan ada pula yang telah musnah sama sekali (hashid). Kehancuran tersebut bukanlah bentuk kezaliman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan akibat dari kezaliman mereka terhadap diri sendiri. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:
وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِن ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ۖ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ
“Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri. Maka sesembahan yang mereka sembah selain Allah tidak bermanfaat sedikitpun bagi mereka.” (QS. Hud [11]: 101)
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat penting bagi setiap hamba. Sesembahan atau tuhan-tuhan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak dapat memberikan manfaat atau menolak mudarat. Keyakinan bahwa satu-satunya yang mampu memberikan manfaat dan mudarat hanyalah Allah semata merupakan inti dari persaksian Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah.
Makna dan Rukun Laa ilaaha illallah
Kalimat Laa ilaaha illallah memiliki makna La ma’buda bihaqqin illallah, yang berarti tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah. Kalimat tauhid ini berdiri di atas dua rukun utama:
- An-Nafyu (Penafian): Menafikan atau meniadakan hak ibadah dari segala sesuatu selain Allah melalui kalimat La ilaha.
- Al-Itsbat (Penetapan): Menetapkan bahwa hak ibadah hanya milik Allah semata melalui kalimat Illallah.
Selain rukun, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kalimat ini sah dan bermanfaat bagi pengucapannya, di antaranya adalah ilmu (memahami maknanya), yakin (tanpa keraguan), serta ikhlas (membersihkan ibadah dari noda syirik).
Kunci Surga dan Syaratnya
Mengucapkan kalimat tauhid bukan sekadar lisan tanpa pembuktian amalan. Wahab bin Munabih pernah ditanya mengenai apakah Laa ilaaha illallah merupakan kunci surga. Beliau menjawab bahwa benar kalimat tersebut adalah kunci surga, namun setiap kunci pasti memiliki gerigi. Beliau menjelaskan:
أليس مفتاح الجنة لا إله إلا الله ؟ قال: بلى ولكن ليس مفتاح إلا له أسنان، فإن جئت بمفتاح له أسنان فتح لك وإلا لم يفتح لك
“Tidak ada satupun kunci melainkan memiliki gerigi. Jika kamu membawa kunci yang memiliki gerigi, maka pintu akan dibukakan untukmu. Jika tidak, maka pintu tidak akan dibukakan.” (Fath al-Mun’im, Penjelasan Sahih Muslim)
Gerigi kunci tersebut adalah ketaatan dan pemenuhan syarat-syarat tauhid. Seseorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah ribuan kali bahkan hingga menangis, namun masih berdoa dan memohon pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kalimat tersebut tidak akan memberikan manfaat sedikit pun. Perbuatan tersebut telah merusak hakikat tauhid dan mendatangkan pembatal keislaman.
Istiqamah dalam Islam
Islam memiliki pintu masuk melalui syahadat, namun seseorang juga harus waspada terhadap hal-hal yang dapat mengeluarkannya dari agama ini (murtad). Mengingat ancaman bagi mereka yang keluar dari Islam adalah neraka, maka setiap Muslim wajib menjaga keimanannya hingga akhir hayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pesan melalui Al-Qur’an:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102)
Sesembahan selain Allah terbukti tidak berdaya ketika azab-Nya datang. Ketika ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang, sesembahan selain Allah yang mereka seru tidak memberikan manfaat sedikit pun. Alih-alih menolong, tuhan-tuhan palsu tersebut justru menambah kebinasaan bagi para penyembahnya. Begitulah cara Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazab penduduk negeri yang zalim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
“Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi sangat keras.” (QS. Hud [11]: 102)
Penyebutan al-qura (negeri-negeri) dalam ayat ini merujuk kepada para penduduknya yang mendustakan Allah dan berbuat syirik dalam keadaan zalim. Sesungguhnya pada kisah-kisah kehancuran umat terdahulu terdapat tanda-tanda kekuasaan bagi orang yang takut akan azab akhirat.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّمَنۡ خَافَ عَذَابَ ٱلۡأٓخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّجۡمُوعٞ لَّهُ ٱلنَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوۡمٞ مَّشۡهُود
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)nya dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).” (QS. Hūd: 103)
وَمَا نُؤَخِّرُهُۥٓ إِلَّا لِأَجَلٖ مَّعۡدُودٖ
“Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.” (QS. Hūd: 104)
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
“Di kala hari itu datang, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.” (QS. Hud [11]: 105)
Pada hari yang sangat agung tersebut, tidak ada satu jiwapun yang berani berbicara kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat itulah manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan yang sengsara (as-syaki) dan golongan yang bahagia (as-sa’id).
Antara Kesengsaraan dan Kebahagiaan
Golongan yang sengsara adalah orang-orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyembah selain-Nya. Mereka mendapatkan azab di dunia dan pada hari kiamat dikembalikan kepada azab yang paling keras. Inilah bentuk kesengsaraan yang hakiki bagi mereka yang mengingkari tauhid dan berbuat syirik.
Adapun golongan yang bahagia adalah orang-orang yang menyembah Allah ‘Azza wa Jalla semata. Mereka adalah ahli tauhid (muwahidun) yang beriman dan tidak mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan mereka dari azab di dunia maupun di akhirat. Golongan ini adalah orang-orang yang meraih kemenangan sebagaimana firman-Nya:
أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ . يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ
“Mereka itulah orang-orang yang menang. Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridaan, dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” (QS. At-Taubah [9]: 20-21)
خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ
“mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taubah: 22)
Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman dan kesempatan menjadi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Setiap Muslim hendaknya senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diwafatkan di atas iman, Islam, dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Doa ini dipanjatkan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan setiap hamba termasuk golongan orang-orang yang bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Kebahagiaan tersebut hanya dapat diraih dengan menjaga pesan utama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102)
Kelelahan sebagai Ketetapan bagi Manusia
Rasa capek dan lelah dalam menjalani kehidupan atau pekerjaan merupakan sebuah kepastian bagi manusia. Hal ini bukanlah sebuah dosa, melainkan fitrah penciptaan manusia di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad [90]: 4)
Manusia yang paling mulia, seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat, juga mengalami kelelahan yang luar biasa dalam berdakwah dan mengurus umat. Namun, mereka tetap menjadi orang-orang yang paling bahagia. Hal ini menunjukkan bahwa rasa lelah dan kebahagiaan dapat berkumpul di dalam hati seorang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjanjikan bahwa dunia ini akan bebas dari kepayahan, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan ketenangan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kehidupan yang baik bagi siapa saja yang menggabungkan iman dengan amal kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 97)
Kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) yang dimaksud adalah lapangnya dada dan hati yang tenang. Tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhuma adalah pribadi yang sangat sibuk dan lelah dalam mengurus urusan umat, namun kelelahan tersebut tidak menghalangi mereka untuk senantiasa mendirikan shalat berjamaah di masjid. Hal ini menjadi teguran bagi siapa saja yang menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah.
Sumber Kebahagiaan yang Hakiki
Kelelahan di dunia adalah sebuah keniscayaan karena adanya ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Balad. Namun, orang beriman memiliki keistimewaan berupa hati yang tetap merasa senang meski fisik merasa letih. Kebahagiaan sejati tidak bersumber dari harta, rumah, atau kendaraan, melainkan hanya diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya yang taat.
Sering kali ditemukan seseorang yang sedang sakit justru merasa lebih bahagia daripada orang yang sehat karena ia memiliki waktu untuk berzikir dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, orang yang sehat namun lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merasakan kesempitan di dalam hatinya. Ketaatan, iman, dan amal saleh adalah kunci utama yang akan mendatangkan kebahagiaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Dua Golongan Manusia pada Hari Kiamat
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwa ketika hari kiamat tiba, manusia akan terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang sengsara dan golongan yang bahagia. Pada hari yang sangat agung tersebut, tidak ada satu jiwa pun yang sanggup berbicara kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
“Di kala hari itu datang, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.” (QS. Hud [11]: 105)
Pembagian ini menentukan tempat kembali setiap hamba di akhirat kelak. Terdapat kelompok yang akan dimasukkan ke dalam surga dan kelompok yang akan dimasukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
“Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy-Syura [42]: 7)
Keimanan dan Keistiqamahan
Menghadapi kenyataan adanya dua golongan besar tersebut, setiap Muslim hendaknya memiliki ketahanan, kesabaran, dan senantiasa berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing ke jalan yang lurus. Prinsip utama yang harus dipegang adalah beriman kemudian istiqamah di atas jalan tersebut. Hal ini merujuk pada pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Setiap hamba perlu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diwafatkan di atas kalimat tauhid Laa ilaaha illallah, tetap berada di atas agama Islam, dan digolongkan sebagai hamba yang berbahagia.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Perahu Nabi Nuh ‘Alaihis Salam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56135-perahu-nabi-nuh-alaihis-salam/